Beranda Artikel Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran: Bombastis Tetapi Tidak Realistis

Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran: Bombastis Tetapi Tidak Realistis

45
0

Sasarannya 82,9 juta anak Indonesia

Belakangan ini, kita sering mendengar tentang program makan siang gratis yang diusung oleh pasangan Prabowo-Gibran. Program ini bertujuan untuk memberikan makan siang gratis kepada 82,9 juta anak Indonesia. Tentu saja, ini adalah angka yang sangat besar dan menarik perhatian banyak orang.

Anggaran Sekitar 400 Triliun per tahun

Untuk mengimplementasikan program ini, diperlukan anggaran sekitar 400 triliun per tahun. Wow, angka yang fantastis! Tapi mari kita lihat lebih dekat dan berpikir secara realistis. Anggaran sebesar itu tentu akan memberikan dampak yang signifikan pada perekonomian negara.

Bombastis Tidak Realistis

Meskipun program makan siang gratis ini terdengar bombastis dan menarik, kita perlu melihatnya dengan kacamata yang realistis. Apakah memungkinkan untuk mengalokasikan anggaran sebesar 400 triliun per tahun hanya untuk makan siang gratis? Tentu saja tidak.

Angka tersebut jauh melebihi anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Jika anggaran sebesar itu dialokasikan untuk program makan siang gratis, maka sektor-sektor penting lainnya akan terabaikan dan masyarakat akan menderita akibat kurangnya investasi dalam bidang-bidang tersebut.

Pembodohan dan Tidak Mendidik

Selain itu, program makan siang gratis ini juga bisa dianggap sebagai bentuk pembodohan dan tidak mendidik. Dalam kehidupan nyata, tidak ada yang gratis. Semua program atau layanan pasti membutuhkan dana untuk dijalankan.

Jika kita terus memberikan makan siang gratis kepada anak-anak, mereka akan tumbuh dengan pemahaman yang salah bahwa segala sesuatu bisa didapatkan secara gratis tanpa usaha. Hal ini tentu tidak sesuai dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.

Berikan Pancing Bukan Ikannya

Dalam menghadapi masalah kelaparan dan kurang gizi anak-anak, kita perlu berpikir lebih kreatif dan memberikan solusi yang lebih berkelanjutan. Alih-alih memberikan makan siang gratis, mengapa tidak memberikan pendidikan dan pelatihan kepada orang tua atau masyarakat untuk menghasilkan pendapatan yang lebih baik?

Dengan memberikan pancingan berupa pendidikan dan pelatihan, kita dapat membantu orang tua atau masyarakat untuk mandiri secara ekonomi. Mereka dapat menghasilkan pendapatan sendiri dan memastikan anak-anak mereka mendapatkan makanan yang cukup.

Jadi, alih-alih terjebak dalam janji-janji bombastis yang tidak realistis, mari kita berpikir secara kritis dan memberikan solusi yang lebih berkelanjutan untuk masalah kelaparan dan kurang gizi anak-anak di Indonesia.

Selain itu, kita juga perlu memastikan bahwa program-program yang diusung oleh para pemimpin kita benar-benar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Kita tidak boleh terjebak dalam janji-janji yang hanya menggiurkan secara permukaan tanpa melihat dampaknya secara keseluruhan.

Bandung, 23 Februari 2024

Bernard Simamora

Tinggalkan Balasan